Prompt Engineering
Prompt Engineering 02: Anatomi Prompt yang Baik
Lima unsur prompt yang jelas, yaitu tugas, konteks, input, format keluaran, dan batasan, beserta cara membedah prompt yang buruk menjadi prompt yang memberi hasil konsisten.

Prompt yang buruk biasanya bukan karena kalimatnya jelek, melainkan karena informasi pentingnya hanya ada di kepala penulis. Model tidak tahu untuk siapa hasilnya, seberapa panjang, atau gaya apa yang diinginkan, jadi ia menebak.
Materi ini memberi kerangka sederhana agar tebakan itu tidak diperlukan.
Yang akan dipelajari
- Lima unsur prompt yang baik
- Membedah prompt buruk menjadi prompt yang jelas
- Kapan prompt pendek sudah cukup
- Urutan menyusun unsur-unsur prompt
Lima unsur prompt
| Unsur | Pertanyaan yang dijawab | Contoh |
|---|---|---|
| Tugas | Apa yang harus dikerjakan? | "Rangkum", "Bandingkan", "Tulis ulang", "Temukan kesalahan" |
| Konteks | Untuk siapa dan untuk apa? | "Untuk mahasiswa semester 2 yang belum belajar statistik" |
| Input | Bahan apa yang diolah? | Teks, data, kode, atau dokumen yang ditempel |
| Format keluaran | Hasilnya berbentuk apa? | "Tabel 3 kolom", "maksimal 150 kata", "poin-poin" |
| Batasan | Apa yang harus/tidak boleh dilakukan? | "Jangan menambah informasi di luar teks", "pakai bahasa formal" |
Tidak semua prompt butuh kelima unsur. Tetapi saat hasilnya mengecewakan, biasanya ada satu unsur yang hilang.
Membedah prompt buruk
Prompt buruk:
Jelaskan tentang overfitting.
Model akan menjawab sesuatu yang umum: definisi, mungkin contoh, panjangnya bebas. Tidak salah, tetapi belum tentu berguna untukmu.
Prompt yang lebih baik:
Tugas: Jelaskan konsep overfitting pada machine learning.
Konteks: Penjelasan ini untuk slide kuliah mahasiswa informatika semester 3
yang sudah tahu regresi linear tetapi belum belajar regularisasi.
Format:
- Satu paragraf definisi dengan analogi sehari-hari (maks. 60 kata)
- Satu contoh numerik sederhana
- Tiga cara mencegah overfitting, masing-masing satu kalimat
Batasan: Hindari rumus matematika yang rumit. Gunakan bahasa Indonesia baku.
Apa yang berubah:
- Konteks memberi tahu tingkat pembaca, sehingga model memilih bahasa dan contoh yang pas.
- Format mengatur panjang dan struktur, sehingga hasilnya siap dipakai di slide.
- Batasan mencegah model menulis rumus yang tidak cocok untuk pembaca.
Label seperti "Tugas:" dan "Konteks:" tidak wajib. Yang penting informasinya ada dan mudah dibedakan.
Prompt pendek kadang sudah cukup
Untuk pertanyaan sederhana, prompt panjang justru membuang waktu:
Apa bahasa Inggris dari "tinjauan pustaka" dalam konteks skripsi?
Gunakan aturan praktis: semakin penting dan spesifik hasil yang kamu butuhkan, semakin lengkap prompt-nya. Jika jawaban pertama sudah memuaskan, tidak perlu menambah apa-apa.
Urutan menyusun prompt
Urutan berikut biasanya paling mudah diikuti model dan manusia:
- Tugas dalam satu kalimat di awal.
- Konteks (pembaca, tujuan, latar).
- Input yang diberi pembatas jelas (materi 05 membahasnya lebih jauh).
- Format keluaran.
- Batasan dan hal yang dihindari.
Untuk input yang panjang, seperti dokumen beberapa halaman, banyak praktisi menaruh dokumen di atas, lalu instruksi di bawahnya. Materi 08 membahas ini.
Coba sendiri
Pilih satu tugas nyata yang sedang kamu kerjakan, lalu isi kerangka ini:
Tugas: [kata kerja + objek]
Konteks: [untuk siapa, tujuan, latar belakang]
Input:
"""
[tempel bahan di sini]
"""
Format: [bentuk, panjang, struktur]
Batasan: [yang wajib/dilarang]
Bandingkan hasilnya dengan prompt satu kalimat untuk tugas yang sama.
Kesalahan yang sering terjadi
| Kesalahan | Perbaikan |
|---|---|
| "Buat bagus ya" | Jelaskan apa arti "bagus": untuk siapa, berapa panjang, gaya apa |
| Beberapa tugas besar dalam satu prompt | Pecah menjadi beberapa langkah (materi 06) |
| Instruksi bertentangan ("singkat tapi lengkap dan detail") | Tentukan prioritas, misalnya "maks. 200 kata, utamakan poin X" |
| Hanya melarang tanpa memberi arah ("jangan bertele-tele") | Katakan yang diinginkan: "maks. 3 kalimat per poin" |
Latihan
- Identifikasi unsur yang hilang dari prompt ini: "Buatkan soal ujian tentang jaringan komputer."
- Tulis ulang prompt di nomor 1 dengan kelima unsur.
- Ubah instruksi negatif ini menjadi instruksi positif: "Jangan pakai bahasa yang terlalu teknis dan jangan terlalu panjang."
Contoh jawaban
Latihan 1
Yang hilang: konteks (tingkat mahasiswa, materi apa yang sudah diajarkan), format (jumlah soal, jenis soal pilihan ganda atau esai, perlu kunci jawaban atau tidak), dan batasan (topik spesifik, tingkat kesulitan). Input juga bisa ditambahkan, misalnya silabus atau bab yang diujikan.
Latihan 2
Buatkan soal ujian tengah semester mata kuliah Jaringan Komputer.
Konteks: Mahasiswa D3 semester 3. Materi yang sudah diajarkan:
model OSI, TCP/IP, subnetting IPv4, dan routing statis.
Format:
- 10 soal pilihan ganda (4 opsi, A–D) dan 2 soal esai
- Sertakan kunci jawaban dan pembahasan singkat di bagian akhir
- Tandai tingkat kesulitan setiap soal: mudah/sedang/sulit
Batasan: Proporsi kesulitan 40% mudah, 40% sedang, 20% sulit.
Soal subnetting harus memakai angka yang bisa dihitung tanpa kalkulator.
Alasannya: konteks materi mencegah soal di luar silabus; format membuat hasil langsung bisa dipakai; batasan kesulitan menjaga ujian tetap adil.
Latihan 3
Gunakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami mahasiswa tahun pertama,
jelaskan istilah teknis saat pertama kali muncul, dan batasi jawaban
maksimal 150 kata.
Alasannya: model lebih mudah mengikuti instruksi yang menyebutkan apa yang diinginkan daripada hanya daftar larangan. Batas angka ("150 kata") juga lebih jelas daripada "jangan terlalu panjang".
Discussion (0)
We store your optional name, your comment, and technical hashes (not your raw IP address) to prevent spam. A functional cookie lets you edit or delete your own comments from this browser. To request deletion, use the contact page.
No comments yet. Start the discussion.